Selasa, 24 Desember 2013

Hariku Tanpamu

Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar. Letak lemari, rak buku, dan meja pun masih sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernafas, jantungku masih berdetak, dan denyutku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?

Mataku berkunang-kunang, pagi ini memang begitu dingin. Aku menarik selimutku dan membiarkan wajahku tenggelam didalamnya. Dan tetap saja aku tidak menemukan kehangatan, aku tetap mengigil di keheningan pagi. Dengan kenangan yang masih menempel disudut-sudut otakku sehingga membekukan kinerja hati. Aku berharap semuanya hanya mimpi, dan ada seseorang yang membangunkanku. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak ingin kuingat lagi.

Ya... Kita masuk bulan baru. Harapan baru. Mimpi yang baru. Cita-cita yang baru. Juga terkadang, tidak ada yang baru. Aku hanya ingin kau tau, bahwa tidak semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan tidak semua masa lalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin dengan hal ini, sampai pada akhirnya kutemukan sebuah kata 'perpisahan'. Aku tahu persis rasanya melepaskan diri dari segala sesuatu hal yang tak ingin kutinggalkan sangat sulit. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu kumiliki tidak bisa lagi ku genggam dengan jemariku.

Kita berpisah tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, kita berpisah begitu saja. Seakan-akan semuanya hanya masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh satu hentakan kecil. Sangat mudah, sampai aku tidak mengerti apakah aku sudah benar-benar berpisah denganmu? Atau dulu kita tidak memiliki keterkatikan apapun. Hanya saja aku dan kamu dulu sering mendengungkan rasa yang sama. Cinta yang kita bela dulu begitu manis berbisik. Segala sesuatu yang menggoda aku dan kamu menyatukan kita dalam rasa (yang katanya) Cinta.

Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tak berbeda, begitu seirama... tanpa cela sedikit pun, tanpa cacat. Sempurna. Dan kita bahagia. Bahagia? Apakah aku bahagia? Apakah kamu bahagia? Jika iya mengapa kita memilih jalan untuk berpisah? Jika berpisah adalah jawaban, Mengapa aku dan kamu masih bertanya-tanya? Pada Tuhan, pada manusia lain, dan pada diri kita masing-masing. Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Kenapa harus kau ubah pelangi menjadi bui? Mengapa harus kau ciptakan luka, jika selama ini kita telah berada dipuncak kebahagiaan?

Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkan segala sesuatu tentangmu. Aku diam-diam mencari tahu keadaanmu. Dan aku merasa sakit, jika aku tahu bahwa ada sudah ada orang lain yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya aku tidak perlu melakukan hal itu, karena kau hanyalah masa laluku. Kita tidak memiliki ikatan apapun sekarang. Ya.. benar akulah yang bodoh, yang taksegera menghentikan diri. Aku berjalan, dan masih terus berjalan dengan penutup mata yang sama sekali enggan kubuka. Semuanya gelap tanpamu.. Kosong.

Ternyata hari berlalu begitu cepat. Dan aku masih belum bisa melupakanmu dari pikiranku. Bayang-bayang mu masih melayang-layang dipikiranku. Ya ini semua salahku karena tak mengunci langkahmu ketika kau ingin jauh melangkah.

Setelah kepergianmu dahulu, hari hari yang kulalui masih sama. Aku masih mengerjakan rutinitasku. Dan, aku mulai mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, dan ada yang ingin singgah. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Namun, tak ada lagi yang sama, kali ini semuanya berbeda. Tak ada lagi kamu yang dulu, tak ada lagi kita yang dulu. Ya, kenangan berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.

Hidupku tak lagi sama seperti dulu. Aku masih berusaha untuk melupakanmu. Aku masih berusaha untuk tidak memikirkan segala sesuatu tentangmu.

Jika jemari ditakdirkan untuk menghapuskan air mata, mengapa kali ini aku harus menghapus air mataku sendiri? Dimana jemarimu disaat tak bisa kuhapuskan air mataku?

Aku harus tetap berjalan. Aku harus tetap berjuang untuk masa depanku. Terimakasih pernah datang ke hidupku dan berbagi kebahagiaan ini. Jika kau merindukanku, aku pun juga begitu  :')

Senin, 21 Oktober 2013

Terimakasih Untuk Semuanya

Aku menulis ini ketika aku sadar bahwa semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Aku menulis ini setelah aku pikir bahwa kamu akan menemukan penggantiku diluar sana. Yang menurutmu lebih mencintaimu, menyayangimu, memahamimu, dan mengerti semua keinginanmu lebih baik dari aku. Kebodohanku lah yang membuat mu pergi meninggalkanku secara perlahan-lahan. Seandainya bisa kuputar kembali waktu, aku tidak akan pernah mengijinkan mu pergi sampai Tuhan bosan dengan usahaku untuk mempertahanmu.

Disinilah aku dengan semua kebodohan dan ketidakpekaanku. Setelah kedatanganmu padaku membuatku merasa bahwa aku seseorang yang beruntung mendapatkan lelaki seperti mu. Yang selalu mengerti semua keadaanku, yang selalu ada disampingku. Tapi itu hanya khayalan semataku.

Aku mulai mencintaimu, mulai membiasakan diri dengan kehadiranmu, dan mulai menyadari bahwa kau datang dengan membawa sejuta cinta untukku. Setiap tatapan mu yang menatap hangatnya mataku aku merasa begitu nyaman denganmu. Setiap waktu yang kamu berikan kepadaku aku merasa kamu memperdulikan diriku bahkan melebihi diriku sendiri. Dulu, aku takut untuk mengartikan semua gerak-gerik dan juga semua yang kamu lakukan padamu. Tapi tatapan hangatmu membuat ku seperti yakin untuk memilihmu. Tapi aku salah besar dengan anggapanku. Terlalu tinggi harap ku agar kamu menjadi milikku seutuhnya, menjadi batu sandanganku ketika aku terjatuh, menjadi motivator yang baik untukku. Dan aku terlalu tolol untuk menyadari bahwa semua harapan palsu yang kamu beri itu hanya ditujukan kepadaku.

Dan pada akhirnya aku tersadar bahwa aku hanya sebagai pelarianmu ketika kamu tidak bisa mendapatkan Dia yang sudah lama engkau inginkan. Aku hanya tempat persinggahan sementaramu ketika kau merasa lelah untuk mendapatkannya. Aku hanya orang bodoh yang di butakan oleh semua rayuan mu.

Awalnya aku menutup telingaku tentang anggapan orang-orang tentangmu. Aku lebih memilih mempercayaimu dibandingkan mempercayai anggapan orang-orang itu. Dulu aku tak ingin mempercayai itu sampai pada akhirnya semua yang mereka katakan tentangmu itu benar. Kau aktor yang baik yang bisa berakting mempermainkanku! Kamu tau bagaimana perasaanku? rasa kecewa yang teramat dalam!

Sungguh bodoh. Mengapa begitu mudah aku menjatuhkan air mataku untukmu yang tak pernah menangisiku? Mengapa rindu yang begitu sialan yang selalu kuucapkan disetiap doaku? Mengapa cinta begitu tak masuk akal ketika perkenalan singkat kita ternyata berujung pada hal yang tak kuduga? Kamu tak akan pernah tau bagaimana sulitnya melupakan perasaan yang begitu melekat ini, betapa tidak mudahnya melupakan mu dari hati dan otakku ini.

Sinaran pesonamu, membutakan segalaku. Begitu mudahnya aku terjebak di bayang-bayang yang aku kira kenyataan. Begitu gampangnya aku terjebak dikesemuan yang tak akan pernah menjadi nyata. Harus ku kemanakan cinta yang makin dalam ini? Harus ku kemanakan rindu yang berujung air mata ini? Haruskah aku bilang padamu dengan mata yang sembab, rambut yang berantakan dan wajah yang begitu lelah; Bahwa aku begitu menginginkan kau kembali padaku?

Pertanyaan perasaanku sudah terjawab secara perlahan-lahan walaupun tidak kau jawab secara langsung. Kau tak punya perasaan sedalam yang aku berikan. Tak punya rindu sedalam yang aku rasakan. Semuanya hanya kebohongan sematamu yang membuat ku menjadi begitu mengharapkanmu. Apakah kau pernah merasakan bagaimana rasanya dinomor sekiankan? tetapi aku masih menyayangimu selayaknya nomor satu.

Kalau kau ingin pergi maka pergilah. Tapi berjanjilah kepadaku bahwa aku adalah wanita terakhir yang kau sakiti hatinya; wanita terakhir yang kamu buat menangis seperti ini. Setelah ini pergilah kepada ibumu, sayangilah Ia selayaknya aku menyayangimu dahulu. Jangan kecewakan perasaannya seperti engkau mengecewakan perasaanku. Jangan sakiti Ia seperti kau menyakitiku. Carilah pasanganmu yang lebih baik dari aku, dan jangan pernah mempermainkannya seperti yang kamu lakukan kepadaku. Aku tidak membencimu karena sudah mempermainkanku, tapi aku berharap aku adalah satu-satunya wanita terakhir yang kamu sakiti perasaannya.

Mungkin besarnya cintaku kepadamu belum bisa kamu rasakan sepenuhnya. Aku hanya pelarianmu; Aku sadar itu. Mungkin aku belum menjadi yang terbaik untukmu tapi inilah aku dengan semua kekuranganku. Kamu boleh meninggalkan ku; Aku akan mencoba menerimanya.

Aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Tapi dalam situasi yang berbeda. Situasi dimana kamu memeluk kekasihmu dengan begitu kehangatan. Dan dimana kekasihku menggenggam erat celah-celah jemariku.

Terimakasih untuk semua canda tawa, kesedihan yang telah kamu bagikan kepadaku. Terimakasih karena sudah menemani dan singgah dihatiku walaupun itu hanya sekejap. Dan sekarang aku sadar bahwa seseorang yang dulu membuatku tertawa paling keras dapat membuatku menangis paling keras.Selamat tinggal untukmu semoga engkau mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku