Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar. Letak lemari, rak buku, dan meja pun masih sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernafas, jantungku masih berdetak, dan denyutku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang dirasakan oleh hati?
Mataku berkunang-kunang, pagi ini memang begitu dingin. Aku menarik selimutku dan membiarkan wajahku tenggelam didalamnya. Dan tetap saja aku tidak menemukan kehangatan, aku tetap mengigil di keheningan pagi. Dengan kenangan yang masih menempel disudut-sudut otakku sehingga membekukan kinerja hati. Aku berharap semuanya hanya mimpi, dan ada seseorang yang membangunkanku. Sungguh, aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak ingin kuingat lagi.
Ya... Kita masuk bulan baru. Harapan baru. Mimpi yang baru. Cita-cita yang baru. Juga terkadang, tidak ada yang baru. Aku hanya ingin kau tau, bahwa tidak semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan tidak semua masa lalu akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin dengan hal ini, sampai pada akhirnya kutemukan sebuah kata 'perpisahan'. Aku tahu persis rasanya melepaskan diri dari segala sesuatu hal yang tak ingin kutinggalkan sangat sulit. Aku semakin tahu, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu kumiliki tidak bisa lagi ku genggam dengan jemariku.
Kita berpisah tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan interupsi. Iya, kita berpisah begitu saja. Seakan-akan semuanya hanya masalah sepele, bisa begitu mudah disentil oleh satu hentakan kecil. Sangat mudah, sampai aku tidak mengerti apakah aku sudah benar-benar berpisah denganmu? Atau dulu kita tidak memiliki keterkatikan apapun. Hanya saja aku dan kamu dulu sering mendengungkan rasa yang sama. Cinta yang kita bela dulu begitu manis berbisik. Segala sesuatu yang menggoda aku dan kamu menyatukan kita dalam rasa (yang katanya) Cinta.
Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tak berbeda, begitu seirama... tanpa cela sedikit pun, tanpa cacat. Sempurna. Dan kita bahagia. Bahagia? Apakah aku bahagia? Apakah kamu bahagia? Jika iya mengapa kita memilih jalan untuk berpisah? Jika berpisah adalah jawaban, Mengapa aku dan kamu masih bertanya-tanya? Pada Tuhan, pada manusia lain, dan pada diri kita masing-masing. Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Kenapa harus kau ubah pelangi menjadi bui? Mengapa harus kau ciptakan luka, jika selama ini kita telah berada dipuncak kebahagiaan?
Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkan segala sesuatu tentangmu. Aku diam-diam mencari tahu keadaanmu. Dan aku merasa sakit, jika aku tahu bahwa ada sudah ada orang lain yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya aku tidak perlu melakukan hal itu, karena kau hanyalah masa laluku. Kita tidak memiliki ikatan apapun sekarang. Ya.. benar akulah yang bodoh, yang taksegera menghentikan diri. Aku berjalan, dan masih terus berjalan dengan penutup mata yang sama sekali enggan kubuka. Semuanya gelap tanpamu.. Kosong.
Ternyata hari berlalu begitu cepat. Dan aku masih belum bisa melupakanmu dari pikiranku. Bayang-bayang mu masih melayang-layang dipikiranku. Ya ini semua salahku karena tak mengunci langkahmu ketika kau ingin jauh melangkah.
Setelah kepergianmu dahulu, hari hari yang kulalui masih sama. Aku masih mengerjakan rutinitasku. Dan, aku mulai mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, dan ada yang ingin singgah. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Namun, tak ada lagi yang sama, kali ini semuanya berbeda. Tak ada lagi kamu yang dulu, tak ada lagi kita yang dulu. Ya, kenangan berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.
Hidupku tak lagi sama seperti dulu. Aku masih berusaha untuk melupakanmu. Aku masih berusaha untuk tidak memikirkan segala sesuatu tentangmu.
Jika jemari ditakdirkan untuk menghapuskan air mata, mengapa kali ini aku harus menghapus air mataku sendiri? Dimana jemarimu disaat tak bisa kuhapuskan air mataku?
Aku harus tetap berjalan. Aku harus tetap berjuang untuk masa depanku. Terimakasih pernah datang ke hidupku dan berbagi kebahagiaan ini. Jika kau merindukanku, aku pun juga begitu :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar